• Majelis Jemaat 2026-2027
    Majelis Jemaat 2026-2027
  • HUT ke-15 GKI Kota Wisata
    HUT ke-15 GKI Kota Wisata
DUKUNGAN DOA : 1.Bangsa & Negara, 2.Presiden, Wakil Presiden dan aparat pemerintah, 3.Gereja-gereja di Indonesia, 4.Kesatuan hati MJ/BP/Aktifis dan kerinduan umat utk melayani , 5.Mereka yang mengalami kelemahan tubuh dan pergumulan, 6.Pembangunan Sarana Ibadah, 7.Program Pelayanan 2026-2027

Jadwal Kebaktian

Kebaktian umum I
: 07:00 Onsite
Kebaktian umum II : 09:30 Hybrid
Kebaktian umum III : Ditiadakan
Kebaktian Batita,Balita : 09:30 WIB
Kebaktian ASM 1-2 : 09:30 WIB
Kebaktian ASM 3-6 : 07:00 WIB
Kebaktian Prarem 7-8 : 07:00 WIB
Kebaktian Remaja : 09:30 WIB
Kebaktian Pemuda : 09:30 WIB

HY: Hybrid. Umat bisa mengikuti melalui Youtube GKI Kota Wisata atau hadir di ruang kebaktian setelah membuat MyQR melalui aplikasi GKI Kota Wisata untuk data kehadiran di ruang ibadah.

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu ” (Matius 11 : 28)

Kegiatan Sepekan

  • Kebaktian Umum
  • Kebaktian anak
  • Kebaktian remaja
  • Kebaktian pemuda
  • Persekutuan doa pagi
  • Persekutuan doa malam
  • Persiapan kebaktian
  • Latihan Paduan Suara
  • Katekisasi
  • Persekutuan Kombas

Selengkapnya

POJOK INFO

Persekutuan Senior, Sabtu 5 dan 19 September 2026 pk 09:00

Pembinaan Perlawatan, Rabu 9 September 2026 pkl 09.30

Persekutuan Dewasa Muda, Sabtu 5 September 2026 pkl 17.00

Persekutuan kaum Perempuan, Rabu 30 September 2026 pkl 10:00

Katekisasi setiap hari Jumat pkl 19:00

Persekutuan Doa Pagi SETIAP hari Sabtu pkl 07:00, dilaksanakan ONLINE via Zoom

Tuhan, Gembala yang Menjamin Hidupku

Setiap orang tentu menginginkan hidup yang aman, terjamin, dan terbebas dari rasa kuatir. Namun, realita hidup seringkali berbeda. Ada banyak kebutuhan yang harus dipenuhi seperti halnya berbagai kebutuhan jasmani (ekonomi, kesehatan, pekerjaan) maupun batin (kedamaian, kebahagiaan, penerimaan). Ada tantangan, ada masalah, bahkan ada rasa takut akan masa depan. Dalam situasi seperti itu, mudah sekali kita merasa kekurangan dan tidak berdaya.

Pemazmur Daud menyatakan dengan penuh keyakinan: “TUHANlah gembalaku, takkan kekurangan aku.” Ayat ini bukan hanya kalimat penghiburan, melainkan sebuah pengakuan iman yang lahir dari pengalaman hidup bersama Tuhan.

Allah Pencipta alam semesta adalah “Gembalaku”, jadi Dialah yang memenuhi segala kebutuhanku. Pernyataan tersebut diserukan oleh Raja Daud yang mendeskripsikan Tuhan sebagai seorang gembala yang baik. Dan ketika Raja Daud berkata “takkan kekurangan aku”, ia mengakui betapa ia sepenuhnya bergantung pada satu Tuhan sebagai gembala-Nya.

Mengapa Raja Daud begitu yakin? Jawabannya adalah karena ia mengenal siapa Tuhan itu. Daud sendiri pernah menjadi gembala domba. Ia tahu persis bagaimana seorang gembala harus bekerja keras untuk menjaga, memelihara, menuntun, dan melindungi domba-dombanya. Oleh karena itu, ketika ia menyebut Tuhan sebagai Gembalanya, itu berarti Daud percaya sepenuhnya pada kasih, kuasa, dan penyertaan Tuhan.

Tuhan sebagai Gembala adalah penuntun hidup:

Seorang gembala selalu menuntun dombanya ke padang rumput hijau dan air yang tenang. Domba adalah binatang yang tidak bisa menuntun dirinya sendiri. Mereka mudah tersesat, tidak punya insting arah yang kuat, dan cenderung mengikuti jalan yang salah. Oleh karenanya domba sangat bergantung pada gembala untuk menunjukkan jalan menuju padang rumput yang hijau dan air yang tenang. Demikian juga Tuhan, Ia menuntun langkah kita di jalan yang benar. Manusia sering bingung menghadapi pilihan hidup, baik itu pekerjaan, usaha, pasangan, keputusan besar, bahkan jalan iman. Kita mudah terseret oleh keinginan, ambisi, atau godaan dunia. Tanpa tuntunan Tuhan, kita bisa salah jalan, tersesat, dan akhirnya mengalami kehancuran. Mungkin kita tidak selalu mengerti jalannya, tetapi Tuhan tahu apa yang terbaik. Itulah sebabnya kita membutuhkan Tuhan sebagai Gembala yang menuntun hidup kita. Lalu bagaimana Tuhan menuntun kita? Berikut adalah beberapa hal yang perlu kita ketahui.

  1. Melalui Firman-Nya. Mazmur 119:105 menyatakan bahwa “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Firman Tuhan adalah peta dan kompas hidup kita. Saat kita merenungkan dan menaati firman, Tuhan menuntun langkah-langkah kita agar tidak salah arah.
  2. Melalui Roh Kudus. Dalam Yohanes 16:13 dinyatakan “Namu, apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran. …” Roh Kudus menuntun kita lewat suara hati, dorongan halus, dan hikmat rohani agar kita tahu mana yang sesuai dengan kehendak Allah.
  3. Melalui Peristiwa Hidup. Tuhan kadang memakai situasi, pengalaman, bahkan kesulitan untuk mengarahkan langkah kita. Seperti gembala memakai tongkat dan gada untuk meluruskan domba yang menyimpang, demikian juga Tuhan mendidik dan mengoreksi kita supaya kembali ke jalan yang benar.

Tuhan mengenal kita lebih daripada kita sendiri. Seorang gembala tahu kebutuhan setiap dombanya, karena Tuhan tahu jalan yang terbaik. Kita hanya melihat sedikit ke depan, tetapi Tuhan melihat keseluruhan perjalanan hidup kita. Oleh karena Tuhan mempunyai tujuan kekal, maka tuntunan-Nya tidak hanya untuk kenyamanan sementara, tetapi untuk membawa kita pada keselamatan dan kehidupan yang penuh.

Tuhan sebagai Gembala adalah pelindung dan penjaga:

Domba adalah hewan yang lemah, mudah tersesat, dan rentan terhadap bahaya. Namun gembala selalu siap melindungi domba-dombanya dari serangan binatang buas. Begitu juga dengan kita, Tuhan menjaga kita dari bahaya yang terlihat maupun yang tidak terlihat. Ia adalah perisai dan benteng yang teguh bagi kita.

Tuhan adalah Gembala kita, Ia sudah menyediakan segala kebutuhan kita. Kasih dan kemurahan-Nya sudah menebus setiap dosa kita. Sudah sepantasnyalah hati kita berseru dengan penuh rasa terimakasih “Pialaku penuh melimpah.” Berkat Tuhan melimpah ke atasku. Perhatikan bahwa yang Tuhan penuhi ialah segala “keperluanku”, bukan segala “keinginan hatiku”. Kita sering melupakan bahwa ada perbedaan antara keperluan dan keinginan hati kita. Dalam Filipi 4:19 dinyatakan “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.” Oleh karena Tuhan sebagai Gembala yang menuntun hidup kita, berarti Ia tidak hanya memberi arahan, tetapi juga berjalan di depan, menjaga, dan memastikan kita sampai ke tujuan yang benar, yaitu hidup yang berkenan kepada-Nya dan akhirnya hidup kekal bersama Dia.

Marilah meyakini bahwa apapun pergumulan kita hari ini, baik tentang pekerjaan, usaha, kesehatan, keluarga, atau masa depan, ingatlah bahwa Tuhan adalah Gembala yang menjamin hidup kita. Ia menuntun, melindungi, dan menyediakan. Bersama Dia, kita tidak akan kekurangan. Amin. (CAD)

Sekilas GKI Kota WisataSekilas sejarah GKI Kota Wisata

Catatan sejarah ini diawali dengan adanya sebuah kesepakatan dalam sebuah rapat kerja yang diadakan oleh BPMSW GKI SW JABAR dengan BPMK-BPMK GKI SW JABAR pada sekitar bulan November tahun 2003. Rapat kerja ini menetapkan perlunya pengembangan jemaat di wilayah Kota Wisata dan menunjuk BPMK Jakarta Timur untuk menindak-lanjuti kesepekatan ini. Ide pengembangan ini diterima oleh BPMK Jakarta Timur dan dalam Persidangan ke-9 Majelis Klasis Jakarta Timur tahun 2004, menunjuk GKI Kayu Putih sebagai jemaat yang akan menindak-lanjuti pelaksanaannya.

keputusan PMK JT tersebut maka Majelis Jemaat GKI Kayu Putih mulai melakukan koordinasi dengan beberapa orang warga GKI yang tinggal di Kota Wisata, Legenda Wisata dan sekitarnya. Pengkoordinasian ini…

Selengkapnya..

Renungan Sepekan

PENGAMPUNAN YANG MENYELAMATKAN

Bacaan: Matius 18:21–35

“Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.”
(Matius 18:22)

Petrus datang kepada Yesus dengan sebuah pertanyaan yang sangat manusiawi: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku?” Petrus bahkan memberikan batas yang menurutnya sudah cukup murah hati, yaitu tujuh kali. Namun Yesus menjawab, “Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.”

Dalam beberapa terjemahan Alkitab, ayat ini diterjemahkan “tujuh puluh tujuh kali”, sedangkan dalam terjemahan lain “tujuh puluh kali tujuh kali”. Perbedaan ini muncul dari cara memahami ungkapan bahasa Yunani yang digunakan Matius. Para ahli Alkitab sendiri masih mendiskusikan apakah maksudnya 77 atau 490 kali. Namun yang jauh lebih penting daripada menghitung angkanya adalah maksud Yesus: pengampunan tidak dimaksudkan untuk dibatasi dengan hitungan.

Menariknya, ungkapan ini mengingatkan kita pada Kejadian 4:24. Lamekh berbicara tentang pembalasan yang dilakukan “tujuh puluh tujuh kali”. Jika dalam kisah Lamekh kita melihat semangat manusia yang ingin membalas kejahatan dengan kejahatan yang berlipat ganda, Yesus justru membawa kita kepada arah yang berlawanan. Apa yang dahulu menjadi simbol pembalasan, kini menjadi gambaran tentang pengampunan.

Karena itu, Yesus sebenarnya sedang mengubah cara kita menjalani kehidupan. Dunia sering mengajarkan, “Kalau dia menyakiti saya, saya juga akan menyakitinya.” Bahkan terkadang kita berpikir, “Saya akan membalas supaya dia tahu bagaimana rasanya.” Tetapi Yesus mengajarkan jalan yang berbeda. Kejahatan tidak dihentikan dengan menambah kejahatan. Kebencian tidak disembuhkan dengan kebencian. Dendam tidak menghasilkan kehidupan yang baru.

Setelah menjawab pertanyaan Petrus, Yesus menceritakan perumpamaan tentang seorang hamba yang memiliki hutang sangat besar kepada rajanya. Ia tidak mungkin mampu membayar hutang tersebut. Namun raja itu berbelas kasihan dan menghapuskan seluruh hutangnya.

Masalahnya, setelah menerima pengampunan yang begitu besar, hamba tersebut bertemu dengan orang yang berhutang kepadanya. Hutang orang itu jauh lebih kecil, tetapi ia tidak mau mengampuninya. Ia bahkan menuntut agar hutang itu dibayar.

Di sinilah Yesus menunjukkan sebuah kenyataan yang sering terjadi dalam kehidupan kita. Kita sangat mudah mengingat kesalahan orang lain, tetapi mudah melupakan betapa besar pengampunan yang sudah kita terima dari Tuhan. Kita berharap Tuhan mengerti kelemahan kita, tetapi kita sulit mengerti kelemahan orang lain. Kita meminta Tuhan memberikan kesempatan kedua kepada kita, tetapi terkadang kita tidak mau memberikan kesempatan kedua kepada sesama.

Padahal setiap hari kita hidup karena kasih karunia Tuhan. Kita bukan manusia yang sempurna. Kita juga pernah salah, mengecewakan orang lain, berkata-kata yang menyakitkan, mengambil keputusan yang keliru, dan melakukan hal-hal yang tidak berkenan kepada Tuhan. Namun Tuhan tidak memperlakukan kita hanya berdasarkan kesalahan kita. Ia memberikan pengampunan dan kesempatan untuk bertobat.

Karena itu, mengampuni bukan berarti mengatakan bahwa kesalahan seseorang tidak serius. Mengampuni juga tidak berarti kita harus membiarkan diri terus disakiti. Dalam keadaan tertentu, kita tetap perlu membuat batas, menjaga jarak, bahkan mengambil langkah yang tegas terhadap ketidakadilan. Tetapi di dalam hati, kita tidak lagi membiarkan dendam dan kebencian menguasai kehidupan kita.

Pengampunan adalah keputusan untuk menyerahkan hak membalas kepada Tuhan.Sering kali kita berpikir bahwa ketika kita mengampuni, kita sedang memberikan hadiah kepada orang yang bersalah kepada kita. Padahal pengampunan juga merupakan pembebasan bagi diri kita sendiri. Ketika kita terus memelihara kebencian, kita sebenarnya sedang membiarkan kesalahan orang lain terus menguasai hidup kita. Orang itu mungkin sudah melanjutkan hidupnya, tetapi kita masih terikat pada peristiwa yang sama.

Pengampunan tidak mengubah masa lalu, tetapi pengampunan dapat mengubah kuasa masa lalu atas hidup kita.Karena itu, mungkin hari ini ada seseorang yang perlu kita ampuni. Mungkin luka itu belum sepenuhnya hilang. Mungkin kita masih merasa sakit ketika mengingat apa yang terjadi. Kita tidak perlu berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Tetapi kita dapat datang kepada Tuhan dan berkata, “Tuhan, aku tidak sanggup mengampuni dengan kekuatanku sendiri. Tolong aku melepaskan dendam ini dan menyerahkan semuanya kepada-Mu.”

Pertanyaan Yesus kepada kita bukan hanya, “Siapa yang harus kamu ampuni?” Pertanyaan yang lebih dalam adalah, “Apakah kamu menyadari betapa besar pengampunan yang telah kamu terima dari Allah?”

Ketika kita menyadari bahwa hidup kita sendiri berdiri di atas pengampunan Tuhan, kita akan belajar memandang kesalahan orang lain dengan belas kasihan. Bukan karena kesalahan itu kecil, tetapi karena kasih karunia Allah jauh lebih besar.

Kiranya kita tidak menjadi seperti hamba dalam perumpamaan Yesus yang menerima pengampunan besar tetapi tidak mau mengampuni. Sebaliknya, karena telah menerima pengampunan Allah, marilah kita menjadi orang yang membawa pengampunan bagi orang lain. Sebab pengampunan Allah menyelamatkan kita dari dosa, dan pengampunan yang kita berikan menolong kita untuk bebas dari kepahitan.

Jadwal Kebaktian GKI Kota Wisata

Kebaktian Umum 1   : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian Umum 2  : Pk. 09.30 (Hybrid)

Kebaktian Prarem 8 : Pk 07.00 (Onsite)

Kebaktian Prarem 7 : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian ASM 3-6  : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian ASM 1-2   : Pk. 09.30 (Onsite)

Kebaktian Batita, Balita: Pk. 09:30 (Onsite)

Kebaktian Remaja  Pk 09.30 (Onsite)

Kebaktian Pemuda Pk. 09.30 (Onsite)

Subscribe Youtube Channel GKI Kota Wisata dan unduh Aplikasi GKI Kota Wisata untuk mendapatkan reminder tentang kegiatan yang sedang berlangsung

 

 



Komunitas

Komisi Anak

Komisi Anak

Keberadaan Komisi Anak di GKI Kota Wisata adalah sebagai wadah pembinaan bagi jemaat anak-anak mulai dari balita sampai dengan pra remaja. Masa kanak-kanak merupakan…

Komisi Remaja

Komisi Remaja

Komisi Remaja GKI Kota Wisata merupakan wadah yang disediakan Majelis Jemaat kepada para remaja yang duduk di bangku sekolah kelas 8-12. Selain kebaktian remaja…

Komisi Pemuda

Komisi Pemuda

Pemuda merupakan tulang punggung Negara sekaligus merupakan tulang punggung gereja. Kaum muda yang takut akan Tuhan akan menghasilkan pemimpin-pemimpin…

Komisi Dewasa

Komisi Dewasa

Komisi Dewasa merupakan wadah bagi jemaat GKI Kota Wisata yang telah berkeluarga tanpa batasan umur. Komisi dewasa mempunyai visi untuk…

Komisi Lansia

Komisi Senior

Komisi Senior merupakan wadah bagi jemaat GKI Kota Wisata yang berumur 55 tahun ke atas. Di samping membina dan membangun iman dan kerohanian serta…

Komunitas Basis

Komunitas Basis

Komunitas Basis (Kombas) adalah revitalisasi dari Wilayah/ Persekutuan Wilayah sebagai strategi baru dalam pengembangan GKI,…