• Majelis Jemaat 2026-2027
    Majelis Jemaat 2026-2027
  • HUT ke-15 GKI Kota Wisata
    HUT ke-15 GKI Kota Wisata
DUKUNGAN DOA : 1.Bangsa & Negara, 2.Presiden, Wakil Presiden dan aparat pemerintah, 3.Gereja-gereja di Indonesia, 4.Kesatuan hati MJ/BP/Aktifis dan kerinduan umat utk melayani , 5.Mereka yang mengalami kelemahan tubuh dan pergumulan, 6.Pembangunan Sarana Ibadah, 7.Program Pelayanan 2026-2027

Jadwal Kebaktian

Kebaktian umum I
: 07:00 Onsite
Kebaktian umum II : 09:30 Hybrid
Kebaktian umum III : Ditiadakan
Kebaktian Batita,Balita : 09:30 WIB
Kebaktian ASM 1-2 : 09:30 WIB
Kebaktian ASM 3-6 : 07:00 WIB
Kebaktian Prarem 7-8 : 07:00 WIB
Kebaktian Remaja : 09:30 WIB
Kebaktian Pemuda : 09:30 WIB

HY: Hybrid. Umat bisa mengikuti melalui Youtube GKI Kota Wisata atau hadir di ruang kebaktian setelah membuat MyQR melalui aplikasi GKI Kota Wisata untuk data kehadiran di ruang ibadah.

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu ” (Matius 11 : 28)

Kegiatan Sepekan

  • Kebaktian Umum
  • Kebaktian anak
  • Kebaktian remaja
  • Kebaktian pemuda
  • Persekutuan doa pagi
  • Persekutuan doa malam
  • Persiapan kebaktian
  • Latihan Paduan Suara
  • Katekisasi
  • Persekutuan Kombas

Selengkapnya

POJOK INFO

Persekutuan Senior, Sabtu 5 dan 19 September 2026 pk 09:00

Pembinaan Perlawatan, Rabu 9 September 2026 pkl 09.30

Persekutuan Dewasa Muda, Sabtu 5 September 2026 pkl 17.00

Persekutuan kaum Perempuan, Rabu 30 September 2026 pkl 10:00

Katekisasi setiap hari Jumat pkl 19:00

Persekutuan Doa Pagi SETIAP hari Sabtu pkl 07:00, dilaksanakan ONLINE via Zoom

Tafsir dan khotbah Leksionari

Tafsir Dan Khotbah Leksionari
Oleh Pdt. Yohanes Bambang Mulyono

1.      Pengantar

Persidangan Majelis Sinode ke XIV Gereja Kristen Indonesia di Denpasar, Bali berhasil
menetapkan Liturgi dengan pembacaan Alkitab secara leksionari. Maksud pola pembacaan secara

leksionari berarti pembacaan Alkitab yang semula hanya satu bacaan saja, kini menjadi 4
pembacaan dengan perincian sebagai berikut:

  •  Bacaan1            : PerjanjianLama
  • AntarBacaan       : Mazmur
  • Bacaan II            : Surat Rasuli
  • Bacaan III           : Injil

Pertanyaan yang muncul adalah apakah suatu khotbah dengan pembacaan Leksionari tersebut, pengkhotbah atau pendeta harus mengkhotbahkan keempat bacaan tersebut? Ada anggapan bahwa pola khotbah yang berupaya mengkait-kaitkan keempat bacaan tersebut merupakan suatu pemaksaan tafsir.  Dalam hal ini kita harus mengakui bahwa kita baru pertama kali menggunakan pola pembacaan secara leksionari, sehingga dapat dipahami timbul kesimpangsiuran dan kesalahpahaman. Karena kita semua pada prinsipnya sedang belajar dan terus belajar, agar pemberitaan firman Tuhan dalam seluruh kebaktian GKI makin dapat menyentuh dan memampukan
seluruh anggota jemaat untuk melaksanakan pembangunan jemaat dan memiliki spiritualitas iman Kristen yang dewasa.

2.      Bahan Khotbah Secara Leksionari

   Ada suatu anggapan bahwa yang dikhotbahkan dalam suatu kebaktian hanyalah salah satu bagian dari Alkitab saja, misal dari bacaan I saja, atau dari bacaan II. Ada juga yang mengatakan bahwa yang layak dikhotbahkan hanyalah bacaan III yaitu Injil. Saya kira anggapan atau pandangan tersebut memiliki landasan teologis dan tafsir yang cukup dapat dipertanggungjawabkan. Sebab dengan memfokuskan diri kepada salah satu bacaan dari ketiga atau keempat bacaan yang tersedia, kita dapat menggali suatu tafsir Alkitabiah yang lebih mendalam.  Tetapi muncul suatu pertanyaan, benarkah pembacaan Alkitab yang tersedia hanyalah sekedar suatu pembacaan liturgis belaka, sehingga kita tidak memperdulikan apakah anggota jemaat dapat mengerti dan memahami dari apa yang telah mereka baca dalam suatu ibadah? Ataukah anggota jemaat hanya terpaksa wajib untuk membaca bahan-bahan Alkitab  secara leksionaris karena telah diputuskan oleh PMS ke XIV GKI?
   Apabila kita memperhatikan buku “The Lectionary Commentary”, Theological Exegesis for Sunday’s Texts dengan editor Roger E. Van Harn sangat jelas bahwa yang dikhotbahkan dalam kebaktian Minggu hanyalah Injil belaka.  Memang fokus utama dari Leksionari dalam arus pemikiran ini adalah Injil. Sebab melalui Injil, umat percaya  dapat mengenal sejarah keselamatan Allah yang secara paripurna dinyatakan oleh Tuhan Yesus Kristus. Dalam buku yang berjudul “Memberitakan Injil Kerajaan” ulasan Injil hari MInggu Tahun A, B, dan C untuk Masa Khusus dan buku “Inilah Yesus Kristus” ulasan Injil hari Minggu Tahun A, B dan C untuk Masa Biasa tulisan Dr. Martin Harun, OFM dari Lembaga Biblika Indonesia sangat jelas hanya mengulas bahan-bahan dari kitab Injil saja.  Tetapi dalam pemahaman secara kanonik, pandangan tersebut perlu dipertanyakan secara kritis yaitu benarkah kitab Injil-Injil menempati posisi tertinggi dan karena itu selain Injil yaitu kitab-kitab lain seperti  Alkitab Perjanjian Lama, kitab Mazmur, dan surat-surat para rasul  tidak boleh ditafsirkan dan dikhotbahkan dalam kebaktian hari Minggu?

Dalam buku “The Minister’s Manual 2007 yang diedit oleh James W. Cox dan Lee McGlone, kita dapat melihat bahwa khotbah leksionari ternyata tidak hanya diambil dari Injil saja. Misal untuk Minggu tanggal 7 Januari 2007, bahan khotbah diambil dari Yes. 43:1-7 dengan topik: “The Turn of a New Year”.  Kemudian untuk hari Minggu tanggal 14 Januari 2007 sebagai “Lectionary Message”-nya diambil dari I Kor. 12:1-11 dengan judul: “The Believer and Spiritual Gift”. Jadi bahan khotbah (pemberitaan firman) secara leksionari ternyata dapat diambil dari salah satu ketiga bacaaan yang tersedia, dengan demikian khotbah dalam kebaktian hari Minggu bukan hanya diambil dari kitab Injil saja. Dalam pemikiran ini, kita selaku gereja  wajib memperlakukan semua kitab dalam Alkitab sejajar dan masing-masing kitab tersebut memiliki kewibawaan yang setara. 

3. Pola Ekesegese Leksionari

Pola eksegese leksionari (ilmu tafsir secara leksionaris) pada prinsipnya  saya pahami dan
didefinisikan, yaitu sebagai: “pola tafsir alkitabiah yang berusaha menggali teks-teks yang tersedia secara leksionaris, yang  mana setiap teks dari keempat bacaan leksionaris  pada hakikatnya memiliki latar-belakang  historis, pemikiran dan  makna teologis  yang berbeda. Namun dari penggalian tafsir alkitabiah yang dilakukan secara eksegetis tersebut kita mau belajar mendengar untuk memahami pesan dan makna teologis dari keempat teks yang tersedia sehingga kita dapat memiliki pemahaman teologis yang lebih utuh dan menyeluruh. Dengan demikian kita selaku gereja dapat menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang relevan dengan kehidupan jemaat”.
Dengan definisi yang saya maksudkan di atas dalam pola eksegese leksionari adalah:

  1. Tiap-tiap teks yaitu khususnya dari ketiga bacaan Alkitab yaitu: Perjanjian Lama, surat dari para rasul, dan Injil harus ditafsirkan sesuai dengan kaidah-kaidah tafsir (eksegese) yang berlaku.
  2.  Karena pembacaan secara leksionari berputar setiap tiga tahun,maka hasil tafsir tersebut perlu memfokuskan diri kepada tema dan tujuan yang telah dirumuskan.
  3. Apabila dari hasil tafsir terhadap salah satu dari keempat teks leksionari ternyata bertentangan dengan tema atau tujuan yang telah dirumuskan, sebaiknya  tema   atau tujuan yang didukung oleh salah satu teks yang menjadi acuan khotbah. Dalam hal ini bahan khotbah atau pemberitaan firman Tuhan cukup diambil dari satu kitab saja.
  4. Pengkhotbah atau pendeta tidak perlu memaksakan hubungan ide atau makna teologis dari ketiga atau keempat teks Alkitab dalam pemberitaan firmanNya. 
  5. Namun apabila dari hasil tafsir yang telah dilakukan secara benar dan bertanggungjawab si pengkhotbah atau pendeta dapat menemukan hubungan dari ketiga atau keempat teks bacaan, maka “penemuan” terhadap hubungan-hubungan ide/pesan teologis tersebut perlu dikomunikasikan si pengkhotbah kepada  anggota jemaat dalam pemberitaan firmanNya.
  6. Khotbah leksionaris bukan sekedar suatu pemberitaan firman yang hanya mampu untuk melihat hubungan ide dan pesan dari ketiga atau keempat bacaan yang tersedia, tetapi juga  yang tak kalah pentingnya adalah apakah dari hasil tafsir yang telah dilakukan si pengkhotbah juga mampu melihat secara tepat hubungan firman Tuhan yang ditafsirkan itu dengan pergumulan dan  kehidupan nyata anggota  jemaat.
  7. Pola tafsir atau eksegese leksionari bukan sekedar suatu upaya penafsiran akademis terhadap ketiga atau keempat teks bacaan, tetapi yang dibutuhkan adalah suatu upaya tafsir yang bertanggungjawab dan reflektif-teologis, sehingga mampu menggugah, memotivasi, membekali  dan membangun spiritualitas anggota jemaat yang mendengarkan firman Tuhan tersebut.

4.      Pembangunan Jemaat

Tugas utama dari kehidupan berjemaat adalah melaksanakan pembangunan jemaat. Sebagaimana yang telah dirumuskan dalam Tata Laksana GKI pasal 52, makna dari salah satu  pembangunan jemaat adalah: “pemberdayaan seluruh anggota GKI dan kelompok-kelompok pelayanan dalam jemaat dengan mendayagunakan talenta-talenta yang dikaruniakan oleh Tuhan kepada mereka serta memanfaatkan potensi-potensi dan kemungkinan-kemungkinan yang ada dalam jemaat itu” (Talak GKI 52:2.a). Dalam hal ini saya memahami bahwa melalui pemberitaan firman Tuhan setiap kebaktian hari Minggu pada prinsipnya kita sedang melaksanakan upaya pemberdayaan kepada seluruh jemaat.  Dalam konteks pemberitaan firman secara leksionaris, saya memahami
makna pemberdayaan untuk menciptakan pembangunan jemaat, yaitu sebagai:

  1. Anggota jemaat berperan serta secara aktif dalam pembacaan Alkitab.
  2. Anggota jemaat diajak mempersiapkan kebaktian dan pemahaman   terhadap firman Tuhan dengan  terlebih dahulu membaca firman Tuhan dari keempat bacaan yang tersedia.
  3. Anggota jemaat diajak untuk mampu melihat hubungan suatu teks dengan teks lain, dan pada pihak lain anggota jemaat juga diajak bersikap jeli dan kritis untuk melihat perbedaan-perbedaan teologis yang dikemukakan oleh keempat bacaan leksionari tersebut.
  4. Anggota jemaat makin terlatih untuk menyikapi suatu khotbah yang bermutu dan sungguh-sungguh dipersiapkan secara matang, serta mampu disampaikan secara etis, relevan dan bertanggungjawab.
  5. Anggota jemaat terdorong untuk membaca Alkitab secara lebih kontinyu melalui pembacaan Alkitab secara leksionaris setiap hari (daily readings), sehinggga mereka makin menyerap nilai-nilai firman Tuhan dalam kehidupan dan pergumulan mereka.

5.     Mazmur Untuk Didaraskan saja?

Kitab Mazmur telah menjadi bagian dari pembacaan leksionaris. Tetapi bagaimana dengan pembacaan kitab Mazmur yang umumnya hanya dijadikan sebagai antar bacaan belaka? Apakah dengan pola pembacaan leksionari, kita selaku gereja Tuhan tidak pernah lagi mengkhotbahkan kitab Mazmur dalam kebaktian-kebaktian kita?
Pembacaan kitab Mazmur dalam pola pembacaan leksionari disebut sebagai antar bacaan untuk menanggapi bacaan pertama dari firman Tuhan, yaitu yang diambil dari Alkitab Perjanjian Lama. Bentuk tanggapan dengan kitab Mazmur tersebut dapat berupa bacaan,atau nyanyian.  Nyanyian Mazmur tersebut dapat kita lihat dalam buku nyanyian yang pernah digunakan oleh sinode-sinode GKI wilayah sebelum mereka menyatukan diri sebagai jemaat GKI, yaitu “Mazmur dan Nyanyian Rohani”. Dalam hal ini saya pribadi memiliki pandangan sebagai berikut:

  1. Kita dapat setuju bahwa letak atau tempat kitab Mazmur dalam pembacaan secaraleksionaris merupakan antar bacaan untuk menanggapi pembacaan Alkitab Perjanjian Lama.
  2. Walau kitab Mazmur dalam tradisi umat Israel dan gereja awal lebih cenderung untuk didaraskan dalam suatu acara ibadah, namun perlu diingat bahwa berulang-ulang kitab Injil mengutip kitab Mazmur sebagai rujukan nubuat terhadap kehidupan dan karya Kristus (misal Kis. 4:25-26 dikutip dari Mzm. 2:1-2; Kis.  13:35 dikutip dari Mzm. 16:10; Mat. 27:46 dan ayat paralel dari Mzm. 22:2, dan sebagainya). Jadi menurut pemahaman saya, kitab Mazmur bukan sekedar kumpulan nyanyian ibadah, tetapi  kitab Mazmur juga memiliki tempat sebagai kitab pengajaran iman yang sejajar dengan kitab-kitab kanonik yang lain.
  3. Sebagai gereja, selama ini kita telah banyak belajar dan menggali kekayaan teologis, spiritualitas dan hikmat dari kitab Mazmur.
  4. Tafsir kitab Mazmur merupakan khasanah dari ilmu biblika yang terus berkembang, sehingga  kita juga perlu bertanggungjawab untuk terus mengembangkan kemampuan untuk memahami dan menafsirkan  kitab Mazmur.
  5. Bahan-bahan khotbah selain diambil dari ketiga bacaan, yaitu dari Alkitab Perjanjian Lama, surat rasuli dan Injil juga perlu dijadwal secara bersengaja teratur bahan-bahan dari kitab Mazmur.
  6. Kedudukan kitab Mazmur dalam pembacaan dan penafsiran secara leksionaris dapat memiliki hubungan ide, maksud, dan makna secara teologis dengan ketiga bacaan leksionaris lainnya; tetapi juga kitab Mazmur pada prinsipnya dapat berdiri sendiri dan berwibawa untuk menyampaikan pengajaran firman Tuhan.

Dengan pemikiran tersebut di atas, saya pribadi beranggapan bahwa kedudukan kitab Mazmur  dalam liturgi GKI bukanlah sekedar untuk didaraskan atau dibacakan sebagai tanggapan terhadap bacaan pertama. Tetapi selain berfungsi sebagai antar bacaan, kitab Mazmur juga perlu diberi tempat sebagai dasar pemberitaan firman Tuhan dalam berbagai bentuk kebaktian yang diselenggarakan oleh jemaat-jemaat di lingkungan GKI.

6. Penutup

Suatu khotbah yang lahir dari eksegese leksionari  diharapkan oleh anggota jemaat dapat menjadi suatu khotbah yang efektif, relevan, menyentuh hati dan komunikatif. Karena itu maksud dari khotbah leksionari bukanlah suatu khotbah yang berpanjang-lebar menguraikan tafsiran tiap-tiap teks. Pengkhotbah atau pendeta wajib menggali dan menafsir seluas dan sedalam mungkin terhadap bahan-bahan teks Alkitab, tetapi dia juga harus tetap arif dan kontekstual dengan kebutuhan dan kemampuan anggota jemaat. Itu sebabnya suatu eksegese leksionari bertujuan untuk menjadi media dari inkarnasi firman yang hidup dan yang memampukan anggota jemaat sebagai pelaku-pelaku firman Tuhan. Ini berarti eksegese leksionari bukanlah tujuan pada dirinya, tetapi hanyalah alat yang perlu terus-menerus diasah, dilatih dan dikembangkan agar setiap anggota jemaat dimampukan untuk berjumpa dengan Allah melalui pemberitaan firman.
   Pada akhirnya suatu pemberitaan firman yang lahir dari suatu eksegese apapun termasuk eksegese leksionari bukan segala-galanya. Sebab dalam melaksanakan pemberitaan firman yang berhasil sangat ditentukan pula oleh faktor mental, spiritual, kesiapan materi, kemampuan mengkomunikasikan, dan kejelian untuk memahami persoalan hidup jemaat. Tetapi semua hal yang baik tersebut juga tidak dapat mencapai tujuan dari pelaksanaan suatu kebaktian, manakala tidak didukung oleh unsur-unsur liturgi dan pemimpin liturgi lainnya. Jika demikian, tiada jalan lain kecuali kita harus sungguh-sungguh mempersiapkan segala sesuatu dalam pelaksanaan suatu kebaktian baik melalui persiapan secara pribadi maupun persiapan secara kolektif  dengan semua pihak sebagai tim kerja yang berkomitmen dan antusias untuk melaksanakan kebaktian yang berkenan kepadaNya.

Tuhan memberkati pelayanan kita bersama!

Sekilas GKI Kota WisataSekilas sejarah GKI Kota Wisata

Catatan sejarah ini diawali dengan adanya sebuah kesepakatan dalam sebuah rapat kerja yang diadakan oleh BPMSW GKI SW JABAR dengan BPMK-BPMK GKI SW JABAR pada sekitar bulan November tahun 2003. Rapat kerja ini menetapkan perlunya pengembangan jemaat di wilayah Kota Wisata dan menunjuk BPMK Jakarta Timur untuk menindak-lanjuti kesepekatan ini. Ide pengembangan ini diterima oleh BPMK Jakarta Timur dan dalam Persidangan ke-9 Majelis Klasis Jakarta Timur tahun 2004, menunjuk GKI Kayu Putih sebagai jemaat yang akan menindak-lanjuti pelaksanaannya.

keputusan PMK JT tersebut maka Majelis Jemaat GKI Kayu Putih mulai melakukan koordinasi dengan beberapa orang warga GKI yang tinggal di Kota Wisata, Legenda Wisata dan sekitarnya. Pengkoordinasian ini…

Selengkapnya..

Renungan Sepekan

PENGAMPUNAN YANG MENYELAMATKAN

Bacaan: Matius 18:21–35

“Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.”
(Matius 18:22)

Petrus datang kepada Yesus dengan sebuah pertanyaan yang sangat manusiawi: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku?” Petrus bahkan memberikan batas yang menurutnya sudah cukup murah hati, yaitu tujuh kali. Namun Yesus menjawab, “Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.”

Dalam beberapa terjemahan Alkitab, ayat ini diterjemahkan “tujuh puluh tujuh kali”, sedangkan dalam terjemahan lain “tujuh puluh kali tujuh kali”. Perbedaan ini muncul dari cara memahami ungkapan bahasa Yunani yang digunakan Matius. Para ahli Alkitab sendiri masih mendiskusikan apakah maksudnya 77 atau 490 kali. Namun yang jauh lebih penting daripada menghitung angkanya adalah maksud Yesus: pengampunan tidak dimaksudkan untuk dibatasi dengan hitungan.

Menariknya, ungkapan ini mengingatkan kita pada Kejadian 4:24. Lamekh berbicara tentang pembalasan yang dilakukan “tujuh puluh tujuh kali”. Jika dalam kisah Lamekh kita melihat semangat manusia yang ingin membalas kejahatan dengan kejahatan yang berlipat ganda, Yesus justru membawa kita kepada arah yang berlawanan. Apa yang dahulu menjadi simbol pembalasan, kini menjadi gambaran tentang pengampunan.

Karena itu, Yesus sebenarnya sedang mengubah cara kita menjalani kehidupan. Dunia sering mengajarkan, “Kalau dia menyakiti saya, saya juga akan menyakitinya.” Bahkan terkadang kita berpikir, “Saya akan membalas supaya dia tahu bagaimana rasanya.” Tetapi Yesus mengajarkan jalan yang berbeda. Kejahatan tidak dihentikan dengan menambah kejahatan. Kebencian tidak disembuhkan dengan kebencian. Dendam tidak menghasilkan kehidupan yang baru.

Setelah menjawab pertanyaan Petrus, Yesus menceritakan perumpamaan tentang seorang hamba yang memiliki hutang sangat besar kepada rajanya. Ia tidak mungkin mampu membayar hutang tersebut. Namun raja itu berbelas kasihan dan menghapuskan seluruh hutangnya.

Masalahnya, setelah menerima pengampunan yang begitu besar, hamba tersebut bertemu dengan orang yang berhutang kepadanya. Hutang orang itu jauh lebih kecil, tetapi ia tidak mau mengampuninya. Ia bahkan menuntut agar hutang itu dibayar.

Di sinilah Yesus menunjukkan sebuah kenyataan yang sering terjadi dalam kehidupan kita. Kita sangat mudah mengingat kesalahan orang lain, tetapi mudah melupakan betapa besar pengampunan yang sudah kita terima dari Tuhan. Kita berharap Tuhan mengerti kelemahan kita, tetapi kita sulit mengerti kelemahan orang lain. Kita meminta Tuhan memberikan kesempatan kedua kepada kita, tetapi terkadang kita tidak mau memberikan kesempatan kedua kepada sesama.

Padahal setiap hari kita hidup karena kasih karunia Tuhan. Kita bukan manusia yang sempurna. Kita juga pernah salah, mengecewakan orang lain, berkata-kata yang menyakitkan, mengambil keputusan yang keliru, dan melakukan hal-hal yang tidak berkenan kepada Tuhan. Namun Tuhan tidak memperlakukan kita hanya berdasarkan kesalahan kita. Ia memberikan pengampunan dan kesempatan untuk bertobat.

Karena itu, mengampuni bukan berarti mengatakan bahwa kesalahan seseorang tidak serius. Mengampuni juga tidak berarti kita harus membiarkan diri terus disakiti. Dalam keadaan tertentu, kita tetap perlu membuat batas, menjaga jarak, bahkan mengambil langkah yang tegas terhadap ketidakadilan. Tetapi di dalam hati, kita tidak lagi membiarkan dendam dan kebencian menguasai kehidupan kita.

Pengampunan adalah keputusan untuk menyerahkan hak membalas kepada Tuhan.Sering kali kita berpikir bahwa ketika kita mengampuni, kita sedang memberikan hadiah kepada orang yang bersalah kepada kita. Padahal pengampunan juga merupakan pembebasan bagi diri kita sendiri. Ketika kita terus memelihara kebencian, kita sebenarnya sedang membiarkan kesalahan orang lain terus menguasai hidup kita. Orang itu mungkin sudah melanjutkan hidupnya, tetapi kita masih terikat pada peristiwa yang sama.

Pengampunan tidak mengubah masa lalu, tetapi pengampunan dapat mengubah kuasa masa lalu atas hidup kita.Karena itu, mungkin hari ini ada seseorang yang perlu kita ampuni. Mungkin luka itu belum sepenuhnya hilang. Mungkin kita masih merasa sakit ketika mengingat apa yang terjadi. Kita tidak perlu berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Tetapi kita dapat datang kepada Tuhan dan berkata, “Tuhan, aku tidak sanggup mengampuni dengan kekuatanku sendiri. Tolong aku melepaskan dendam ini dan menyerahkan semuanya kepada-Mu.”

Pertanyaan Yesus kepada kita bukan hanya, “Siapa yang harus kamu ampuni?” Pertanyaan yang lebih dalam adalah, “Apakah kamu menyadari betapa besar pengampunan yang telah kamu terima dari Allah?”

Ketika kita menyadari bahwa hidup kita sendiri berdiri di atas pengampunan Tuhan, kita akan belajar memandang kesalahan orang lain dengan belas kasihan. Bukan karena kesalahan itu kecil, tetapi karena kasih karunia Allah jauh lebih besar.

Kiranya kita tidak menjadi seperti hamba dalam perumpamaan Yesus yang menerima pengampunan besar tetapi tidak mau mengampuni. Sebaliknya, karena telah menerima pengampunan Allah, marilah kita menjadi orang yang membawa pengampunan bagi orang lain. Sebab pengampunan Allah menyelamatkan kita dari dosa, dan pengampunan yang kita berikan menolong kita untuk bebas dari kepahitan.

Jadwal Kebaktian GKI Kota Wisata

Kebaktian Umum 1   : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian Umum 2  : Pk. 09.30 (Hybrid)

Kebaktian Prarem 8 : Pk 07.00 (Onsite)

Kebaktian Prarem 7 : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian ASM 3-6  : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian ASM 1-2   : Pk. 09.30 (Onsite)

Kebaktian Batita, Balita: Pk. 09:30 (Onsite)

Kebaktian Remaja  Pk 09.30 (Onsite)

Kebaktian Pemuda Pk. 09.30 (Onsite)

Subscribe Youtube Channel GKI Kota Wisata dan unduh Aplikasi GKI Kota Wisata untuk mendapatkan reminder tentang kegiatan yang sedang berlangsung

 

 



Komunitas

Komisi Anak

Komisi Anak

Keberadaan Komisi Anak di GKI Kota Wisata adalah sebagai wadah pembinaan bagi jemaat anak-anak mulai dari balita sampai dengan pra remaja. Masa kanak-kanak merupakan…

Komisi Remaja

Komisi Remaja

Komisi Remaja GKI Kota Wisata merupakan wadah yang disediakan Majelis Jemaat kepada para remaja yang duduk di bangku sekolah kelas 8-12. Selain kebaktian remaja…

Komisi Pemuda

Komisi Pemuda

Pemuda merupakan tulang punggung Negara sekaligus merupakan tulang punggung gereja. Kaum muda yang takut akan Tuhan akan menghasilkan pemimpin-pemimpin…

Komisi Dewasa

Komisi Dewasa

Komisi Dewasa merupakan wadah bagi jemaat GKI Kota Wisata yang telah berkeluarga tanpa batasan umur. Komisi dewasa mempunyai visi untuk…

Komisi Lansia

Komisi Senior

Komisi Senior merupakan wadah bagi jemaat GKI Kota Wisata yang berumur 55 tahun ke atas. Di samping membina dan membangun iman dan kerohanian serta…

Komunitas Basis

Komunitas Basis

Komunitas Basis (Kombas) adalah revitalisasi dari Wilayah/ Persekutuan Wilayah sebagai strategi baru dalam pengembangan GKI,…